Suatu pagi aku bangun, lalu keluar untuk beli makan, begitu sampai rumah, aku buka bungkus makanan itu, seperti biasa aku makan, tapi kok ada yang aneh, aku kesusahan untuk mengunyah dan menelan makananku, aku yang biasa mengunyah pakai gigi bagian kiri terus aku pindah pakai gigi bagian kanan, Alhamdulillah bisa walaupun tak terbiasa. Aku langsung berhenti makan dan minum, waktu minum ternyata air yang kuminum tumpah keluar dari bibir bagian kiri, seperti orang ngiler. Setelah kuamati dengan cermin ternyata wajahku turun sebelah menjadi tidak simetris, aku tidak tahu apa yang terjadi dengan wajahku, aku langsung olahraga skipping waktu itu. Begitulah awal mulanya aku kena kelumpuhan saraf wajah.
Waktu itu bulan Agustus tahun 2021 ketika virus covid mewabah di Indonesia. Dalam posisi aku lagi senang setelah hampir 2 minggu melawan covid, karantina sendirian di rumah, dan dinyatakan negatif covid dari klinik, aku harus menghadapi kenyataan bahwa wajahku lumpuh sebelah di bagian kiri. Waktu itu kebetulan mamah juga baru beberapa hari pulang paksa setelah di karantina di rumah sakit karena covid juga. Mamah pulang paksa karena sudah tidak betah di rumah sakit dan tidak nyaman dengan proses penyembuhan yang diberikan. Kakak sebenarnya kurang setuju waktu itu buat pulang paksa tapi aku setuju karena kasihan dan aku bisa membantu merawat di rumah.
Dalam kondisi wajahku yang lumpuh sebagian, aku harus merawat mamah yang masih belum kuat jalan dan nafas yang masih engap. Selain susah mengunyah dan air tumpah dari mulut, mataku juga agak mengecil sebelah dan memerah, tidak terasa sakit memang tapi tentu tidak enak untuk dilihat. Aku juga kesusahan mengucapkan huruf B dan P, ketika mengucap kedua huruf tersebut tidak jelas sehingga kadang tidak enak juga buat bicara. Di kala keluar naik motor buat beli makanan dan minuman, ternyata sangat tidak nyaman pada bagian kuping, terutama mendengar suara knalpot yang berisik, begitu sampai rumah mata langsung memerah dan berair karena kena angin jalanan.
Ternyata penyakit ini juga menyerang bagian hidungku sebelah kiri, agak sedikit berbeda ketika harus menarik dan melepas nafas, seperti tidak ada sirkulasi udara, tapi tidak ada rasa sakit sedikit pun di bagian hidung dan nafas pun tidak ada masalah. Ketika waktu mandi baru terasa kalau bagian sebelah kiri kebas, ketika terkena air, tidak terasa apapun. Begitu juga ketika harus berkumur, maka bagian pipi yang kiri tidak mengembang lebar layaknya pipi kanan dan kadang airnya ikut keluar dari bibir. Buat membuang air kumur pun tidak bisa jauh dan arah buangannya tidak bisa lurus.
Diantara semua tanda-tanda yang aku rasakan, sebenarnya cuma satu yang bikin malas untuk bertemu dengan orang yaitu tidak jelas mengucap huruf p dan b, terasa tidak nyaman sekali dengan itu, agak susah buat ngomong jelas. Berhubung waktu itu masih pandemi COVID jadi kemana-mana masih pakai masker, sehingga tidak keliatan oleh orang lain wajahku yang lumpuh sebelah itu.
Aku sebenarnya mau ke klinik faskesku, tapi kasihan juga ninggalin mamah dalam kondisi sendirian seperti itu. Aku juga tidak tahu penyakitku apa, tapi seperti stroke ringan yang menyerang wajah, kebetulan aku memang punya riwayat tekanan darah tinggi. Usaha yang kulakukan hanya sebatas berolahraga di rumah dengan lari kecil dan skipping, aku tidak minum obat apapun.
Waktu berjalan, akhirnya aku bilang ke kakak untuk menginap bersama mamah di rumah kakak supaya mamah ada yang ngurusi. Awal-awal di rumah kakak, ada sepupu yang ngasih tahu jika ada tukang pijat syaraf panggilan yang bisa datang ke rumah, aku ditawari untuk dipanggilkan tukang pijat tersebut, aku mengiyakan saja. Ternyata tukang pijatnya ibu yang sudah agak berumur dan ternyata yang dipijat bukan hanya bagian wajah saja tapi badan hingga kaki juga dipijat. Untuk bagian wajah ditreatment dengan alat setrum yang aku sendiri kurang tahu namanya, tapi tidak begitu sakit. Setelah dipijat ya enak saja rasanya, kurang tahu apakah efektif buat penyakit sarafku atau tidak.
Sekitar seminggu atau dua minggu berjalan aku pergi ke klinik faskesku untuk berobat, disitu seperti biasa dicek tensi terlebih dahulu, dan ya tensiku lumayan tinggi waktu itu. Ketika tiba giliaranku dipanggil dokter, aku langsung menyampaikan keluhanku, aku bilang ke dokternya kalau wajahku kaku sebelah dan bilang juga kalau tensiku sering tinggi. Lalu sama dokternya aku disuruh buat terapi sendiri dulu di rumah dengan meniup kertas, dokter juga bilang jika dirasa tidak ada kemajuan selama seminggu, aku disarankan untuk ke dokter syaraf. Aku waktu itu lupa buat tanya penyakitku.
Begitu pulang dari klinik aku langsung cari informasi dari google tentang apa penyakitku tentang apa penyakit yang aku derita, dan aku menemukan sebuah penyakit yang penderitanya mengalami kelumpuhan di salah satu bagian wajahnya, namanya Bell's Palsy. Ketika aku baca ciri-cirinya sama persis dengan yang aku alami, ada beberapa artis juga yang mengalami penyakit seperti itu, seperti Rano Karno dan Samuel Zylgwyn. Aku dapat informasi bahwa penyakit ini disebabkan oleh sebuah virus herpes yang menyerang syaraf wajah. Aku juga mendapat informasi lain jika di India ada yang terserang Bell's Palsy setelah terjangkit virus COVID.
Aku langsung cari berbagai cara untuk penyembuhan penyakit tersebut, banyak sekali cara yang aku dapatkan dari internet tapi waktu itu yang aku lakukan seperti meniup balon, mengkonsumsi minyak ikan, mengucap aiueo, melakukan senam wajah, melakukan pijat wajah mandiri, mengkompres wajah dengan air hangat, mengunyah perman karet. Dan setelah beberapa minggu dengan treatment tersebut ada kemajuan dari wajahku. Aku sudah bisa membuang air kumur jauh-jauh, mulutku juga mulai rapat menutup, dan aku bisa mengucap huruf B dan P dengan jelas, tapi mataku masih agak sedikit mengecil dan menurut info yang aku baca, bagian mata emang paling lama penyembuhannya.
Kira-kira membutuhkan waktu sekitar 2 bulan untuk kemajuan syaraf wajahku itu. Aku belum pergi ke dokter spesialis syaraf sama sekali hingga sekarang, semua kulakukan sendiri di rumah, dan tidak ada pantangan makanan apapun bagi penderita Bell's Palsy, tapi aku tetap konsumsi makanan yang bagus buat syarafku.
Sekarang kurang lebih 2 tahun berlalu, kemajuannya sudah jauh lebih baik, hanya sedikit bagian yang masih terasa dan terlihat.
Saranku buat penderita Bell's Palsy, berobat, tetap semangat, jangan malu, tetap jaga kesehatan, dan banyak bergerak. Selain itu juga bisa bergabung dengan grup Facebook tentang Bell's Palsy, disana banyak sekali anggota yang berbagi pengalaman tentang penyakit Bell's Palsy dan penyembuhannya.
Semoga kita semua selalu diberi kesehatan.
![]() |
| 2021 |
![]() |
| 2023 |







